TARBIYAH MENURUT ISLAM
Ali Murtadlo
BAB PERTAMA:
PENGANTAR
I. MUQODDIMAH
الحمد لله رب العالمين. أشهد أن لا إله إلا الله، و أشهد أن محمدا عبده و رسوله اللهم صل على محمد و على آله و صحبه أجمعين.
يآ أيها الذين أمنوا اتقوا الله حق تقاته و لا تموتن ألا و أنتم مسلون.
يآ أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة و خلق منها زوجها و بث منهما رجالا كثيرا و نسآء و اتقوا الله الذي تسآءلون به و الأرحام، إن الله كان عليكم رقيبا.
يآ أيها الذين أمنوا اتقوا الله و قولوا قولا سديدا، يصلح لكم أعمالكم و يغفر لكم ذنوبكم، ومن يطع الله و رسوله فقد فاز فوزا عظيما.
فإن أصدق الحديث كتاب الله، و خير الهدي هدي محمد، و شر الأمور محدثاتها، و كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة، و كل ضلالة في النار
Tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran singkat pemahaman penulis terhadap Tarbiyah Islamiyah dan sebagian kecil permasalahannya, mengingat ini suatu urusan yang besar dan sangat komplek. Penulis hanya membatasi pembahasannya pada seputar pengertian Tarbiyah , pentingnya tarbiyah dan beberapa permasalahan pokok dalam urusan tarbiyah yang secara nyata ditemui oleh para murobbi dalam menjalankan misi risalah nubuwah ini.
Penulis membagi tulisan ini pada empat bab, yaitu:
1. Bab Pertama Pendahuluan
2. Bab Kedua mencakup Tarbiyah secara teori.
3. Bab Ketiga mencakup tantangan Tarbiyah Islamiyah
4. Bab Keempat mencakup Kesimpulan dan Penutup.
Semoga tulisan ini bermanfaat dan merupakan bagian dari amal ibadah bagi penulis di hadapan Alloh , dan merupakan sumbangan pemikiran bagi dunia Tarbiyah Islamiyah pada umumnya.
II. DASAR PEMIKIRAN
Di dalam Al Qur’an Alloh telah menyebutkan:
إقرأ باسم ربك الذي خلق {1} خلق الإنسان من علق {2} إقرأ و ربك الأكرم {3} الذي علم بالقلم {4} علم الإنسان ما لم يعلم {5}
1. bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
قل هل يستوي الذين يعلمون و الذين لا يعلمون، إنما يتذكر أولوا الألباب.
Artinya: “Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. ”.
BAB KEDUA
SEKILAS TARBIYAH DALAM TEORI
I. DEFINISI TARBIYAH
Secara bahasa tarbiyah berasal dari kata dalam bahasa Arab ربى – يربي - تربية mempunyai beberapa makna: diantaranya tumbuh, bertambah dan tinggi.
يمحق الله الربوا ويربي الصدقات
Artinya: “Allah memusnahkan Riba dan menyuburkan sedekah ”.
و مثل الذين ينفقون أموالهم ابتغاء مرضات الله و تثبيتا من أنفسهم كمثل جنة بربوة أصابها وابل فئاتت أكلها ضعفين ... {265}
265. dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran Tinggi yang disiram oleh hujan lebat, Maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat.
و ترى الأرض هامدة فإذا أنزلنا عليها الماء اهتزت وربت و أنبتت من كل زوج بهيج
Artinya: “dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. ”.
Adapun secara istilah tarbiyah sebagaimana yang dikatakan oleh Dr. Sayyid Muhammad Nuh dalam bukunya Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah fii qodhiyatit taghyiir bi janibaih at-Tarbawy wa ad-Da’awy yang diterjemahkan oleh Irwan Roihan dengan judul Dakwah dan Tarbiyah Ahlus sunnah wal jama’ah sebagai berikut:
“suatu amal yang terwujud dengan berlainan cara dan perantara yang tidak bertentangan dengan syari’at Islam untuk melindungi manusia dan memeliharanya sehingga menjadi pemimpin (sayyid) di dunia ini, untuk memimpin negeri dengan pribadatan yang sempurna kepad Allah pemelihara sekalian alam”.
Menurut Frederick J. Mc. Donald, pendidikan adalah suatu proses atau kegiatan yang diarahkan untuk mengubah tabiat (behavior) manusia.
Dengan demikian Tarbiyah Islamiyah secara istilah bisa dimaknai: upaya mengubah pola pikir, pola rasa dan pola tindakan manusia yang tidak sesuai dengan Islam menuju pola pikir, pola rasa dan pola tindakan manusia sesuai dengan ajaran Islam demi kebahagiaan manusia di dunia dan akherat, dengan mengoptimalkan semua sumber daya yang ada.
II. MASYRU’IYATU AL-TARBIYAH
Tarbiyah disyari’atkan berdasarkan Al Qur’an, Al Hadits dan juga kesepakatann kaum muslimiin.
Alloh berfirman
إقرأ باسم ربك الذي خلق {1} خلق الإنسان من علق {2} إقرأ و ربك الأكرم {3} الذي علم بالقلم {4} علم الإنسان ما لم يعلم {5}
1. bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Dilain ayat Alloh juga berfirman:
Sementara dalam Hadits, Rosululloh telah bersabda:
علموا أولادكم بالسباحة و الرماية
Artinya: “Ajarilah anak-anakmu dengan berenang dan memanah. (Al-Hadits).
طلب العلم فريضة على كل مسلم
Artinya:”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (al- Hadits al- Shohih)
لِيَبْلُغَ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ، فَإِنَّ الشَّاهِدَ عَسَى أَنْ يَّبْلُغَ مَنْ هُوَ أَوْعَى لَهُ مِنْهُ {رواه البخاري}
Artinya:”Supaya orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang ghoib, karena orang yang hadir barangkali akan menyampaikan kepada rang yang lebih paham daripada dirinya”. (H.R. Bukhori) (Dikutip dari Dr.As-Sayyid Muhammad Nuh, Da’wah dan Tarbiyah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hal 88
بَلِّغُوْا عَنِّي وَلَوْ آيَةً { رواه البخاري}
Artinya:”Sampaikan dariku walaupun hanya satu ayat”. (H.R. Bukhori) (Dikutip dari Dr.As-Sayyid Muhammad Nuh, Da’wah dan Tarbiyah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hal 88 dan M Natsir, Fiqh Da’wah hal 109)
Dari ayat dan hadits yang senada dengan itu maka kaum muslimiin sepakat bahwa tarbiyah merupakan kewajiban atas setiap muslim sebatas kemampuannya. Bahkan ini merupakan sarana untuk keluar dari kerugian sebagaimana yang difirmankan oleh Alloh dalam Surat Al ‘Ashr:
وَ الْعَصْرِ. إِنَّ اْلإِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ. إِلاَّ الَّذِيْنَ أَمَنُوْا وَعَمِلُ الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ.
Artinya:”Demi Masa. Sesugguhnya manusia dalam keadaan merugi. Kecuali mereka yang beriman dan beramal sholih, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran”. (Q.S. Al ‘Ashr: 1-3.
III. PENTINGNYA TARBIYAH
Menurut Dr.As-Sayyid Muh. Nuh, kebutuhan akan da’wah ada beberapa point yaitu:
1. Untuk memohon pertolongan dan bnatuan dari Sang Pemelihara (Alloh -penulis) dalam peperangan melawan kebatilan atau melawan kejahiliyahan.
2. Untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang lalai.
3. Untuk menegakkan hujjah kepad orang-orang yang keras kepala.
4. Untuk membentuk opini publik.
5. Agar manusia bisa hidup baik di dunia.
6. Untuk menyelamatkan diri dari siksa dunia-akherat atau akherat saja.
7. Da’wah dan Tarbiyah merupakan asas pembangunan peribadi muslim.
8. Da’wah dan Tarbiyah adalah jalan persatuankaum muslimiin.
(Disarikan dari Dr.As-Sayyid Muhammad Nuh, Da’wah dan Tarbiyah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hal 43 – 73 dengan perubahan)
Begitu pentingnya tarbiyah, maka ancaman yang Alloh sampaikan kepad manusia jika tidak mau menyampaikan ilmu adalah meluasnya kemungkaran. Dan jika hal itu berlanjut, maka pada gilirannya akan membawa kepada ditimpakannya siksa Alloh bukan hanya kepada orang-orang dzolim saja, tetapi juga kepada segenap manusia yang tinggal di daerah itu, jika ada kemungkaran,mereka diam seribu bahasa, padahal mampu untuk bertindak.
Alloh berfirman:
وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لاَّ تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَآصَّةً {سورة الأنفال: 25}
Artinya:”Dan jagalah dirimu dari fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang yang dzolim dikalangan kalian saja”. (Q.S. Al Anfal (8):25)
Begitulah jika para ulama’, para guru, para ustadz dan cerdik pandai tidak ambil bagian dalam meneruskan risalah kenabian ini, maka terputuslah gerakan pembinaan ummat ini. Pada akhirnya akan timbul berbagai pelanggaran baik pada tingkat individu maupun sosio masyarakat (ijtima’y), sehingga norma-norma kehidupan ini dilupakan. Aturan Alloh untuk mengelola kehidupa dunia ini menjadi asing dan jadilah manusia mengabdi kepada manusia lain. Maka kejahiliyahan kembali marak di muka bumi dan adzab Alloh, bukan lagi hanya menimpa orang-prang dzolim saja, tetapi mengumum kepada seluruh alam, na’udzu billaahi min dzaalik.
IV. TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
Menurut Abdul Fatah Jalal, tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah.
Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia yang menghambakan kepada Allah. Yang dimaksud menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah.
Islam menghendaki agar manusia dididik supaya ia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah. Tujuan hidup menusia itu menurut Allah ialah beribadah kepada Allah. Seperti dalam surat a Dzariyat ayat 56 :
وما خلقت الجن و الإنس إلا ليعبدون
Artinya: “dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
V. BI’AH PENDIDIKAN
Minimal ada tiga poros yang penulis ketengahkan pada kesempatan ini, yaitu:
1. Rumah.
Rumah merupakan tempat yang sangat berpengaruh dalam pendidikan. Seorang anak akan merekam apa saja yang terjadi di dalam rumah. Tingkah laku penghuninya, utamanya kedua orang tua sangat membekas pada memori sang anak. Karena itu akhlaq dan tashowwur (cakrawala pandang) orang tua terhadap Islam dan kehidupan dunia ini harus benar. Cukuplah firman Allah Surat al-Tahrim (66): 6 mengingatkan kita, yaitu:
يا أيها الذين ءا منوا قوا أنفسكم و أهليكم نارا و قودها الناس و الحجارة عليها ملئكة غلاظ شداد لا يعصون الله ما أمرهم و يفعلون ما يؤمرون {6}
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
2. Sekolah (madrasah/campus)
Pendidik di sekolah yaitu para asatidzah hendaknya bukan hanya berfungsi sebagai transfomer ilmu, tetapi lebih jauh ia bertindak sebagai murabbi (pendidik). Maka teman pergaulan di sekolah, perhatian guru dan dosen mempunyai peran besar dalam rangka mensukseskan tarbiyah islamiyah.
3. Masjid
Seorang anak manusia akan menemukan komunitas yang berbeda di tempat ibadah. Tashowwur keislamannya sedikit banyak akan terwarnai dengan warna masjid dimana ia banyak mengunjunginya.Ia akan bertemu dengan jamaah sholat lima waktu, yang dengannya mereka akan berdialog, diskusi dan saling menimba ilmu. Karena itu sedari dini hendaknya anak dikenalkan dengan siapa Tuhannya, apa kewajibannya dan akhir perjalanan hidupnya. Komunikasi yang kontinyu ini akan membentuk karakternya kelak waktu dewasa.
BAB KETIGA
SEKILAS TENTANG DINAMIKA TARBIYAH (PENDIDIKAN)
I. PERKEMBANGAN TARBIYAH
Perjalanan tarbiyah ini sebenarnya dimulai sejak Nabi Adam . Manusia diciptakan secara fitroh Alloh untuk seantiasa mentauhidkan-Nya. Karena itu inti da’wah seluruh para Nabi dan Rosul adalah kalimatut thoyyibah لا إله إلا الله .
Ketika manusia mulai menyeleweng dari jalan fitroh ini,maka Alloh mengutus Nabi Nuh untuk menyeru manusia kembali ke jalan yang lurus. Pembinaan yang dilakukan Nabi Nuh tidaklah berjalan dengan mulus, melainkan beliau menemui begitu banyak hambatan dan tantangan. Waktu yang cukup panjang Alloh karuniakan kepada Nabi Nuh untuk berda’wah, beliau maksimalkan siang dan malam. Tetapi manusia menentang usaha beliau dan hanya segelintir orang yang mau beriman kepada beliau, hingga Alloh mewahyukan kepad Nabi Nuh untuk membuat perahu yang kelak akan menjadi kendaraan bagi beliau dan mereka yang mau menerima jerih payahnya ketika Alloh menurunkan adzab berupa banjir. Usaha pembinaan berlanjut pada generasi setelahnya hingga datang Nabi Muhammad dan diteruskan oleh para sahabat, generasi tabi’in dan tabi’ut tabi’iin serta generasi sholeh berikutnya.
Pada masa kekinian Tarbiyah Islamiyah mau tidak mau harus dilakukan dengan inovasi sesuai dengan perkembangan peradaban umat manusia dengan tidak meninggalkan value yang diemban oleh para nabi dan generasi terdahulu. Pergulatan tarbiyah ini akan berlangsung hingga Alloh mendatangkan keputusannya yaitu datangnya qiyamat.
II. TANTANGAN DAN HAMBATAN TARBIYAH (PENDIDIKAN) KEKINIAN
Kalau kita perhatikan dengan seksama, maka Tarbiyah Islamiyah ini mengahadapi tantangan dan hambatan baik dari dalam maupun dari luar.
1. Tantangan dan Hambatan dari dalam.
Yang penulis maksudkan dengan tantangan dan hambatan dari dalam adalah keadaan kaum muslimiin sendiri dalam memahami Islam. Masih banyak bentuk-bentuk penyimpangan yang terjadi di kalangan intern kaum muslimiin, antara lain:
a. Fitnatus subuhat, yaitu fitnah kebodohan. Banyak muslimiin yang awam dengan dinul Islam. Mereka justru merasa asing dengan ajaran Islam yang murni. Karena itu gerakan purifikasi dalam Islam dengan bentuk tajdidul fikroh dalam arti mengembalikan pemahaman kaum muslimiin kepada pemahaman salaf merupakan hal yang niscaya.
b. Kemiskinan. Akibat dari fitnah kebodohan itu, banyak kaum muslimiin yang terjebak dalam kemiskinan, sehingga daya tahan untuk memegang teguh kemurnian ajaran Islam menjadi rawan. Utamanya karena kebutuhan pendidikan, ekonomi, dan kesehatan.
c. Fitnatusy syahwat. Terjadinya pertikaian dikalangan kaum muslimiin yang melahirkan berbagai firqoh. Ini berkembang menjadi nafsu menguasai yang tak terkendali dan bahkan mengeluarkan dari kemurnian ajaran Islam.Maka timbullah Syi’ah, Khowarij, Mutazilah. ‘Asy’ariyah, Maturidiyah, Jabariyah, Qodariyah. Pada masa sekarang timbul LDII, Isa Bugis, Inkarus Sunnah dan lain sebagainya.
2. Tantangan dan Hambatan dari luar.
Yang penulis maksudkan dengan tantangan dan hambatan dari luar.adalah gerakan pemurtadan yang dilancarkan oleh pihak non muslim. Dengan berkedok LSM-LSM di bidang advokasi, ekonomi, pendidikan dan kesehatan dan kemanusiaan lainnya, pihak non muslim melancarkan misinya. Bahkan tidak cukup dengan itu, upaya kekerasan dan melanggar hak azasi manusia mereka lakukan. Gerakan ini muncul dengan teory ghozwul fikri (perang urat saraf/perang pemikiran) dan tidak jarang etnic cleansing (pembersihan etnis).
Begitu marak dan derasnya, sehingga tidak jarang dari kalangan intelek muslim menjadi korban peperangan bentuk ini. Kita saksikan pemikiran-pemikiran menyimpang dari Islam justru akhir-akhir ini banyak bersumber dari oknum yang dikenal dengan cendekiawan muslim, guru besar, tokoh bangsa dan sebagainya. Inilah hasil dari dua fitnah besar yaitu fitnah subhat dan fitnah syahwat.
Karena itu diharapkan para guru, asatidz, tenaga pendidik secara umum mampu menjawab hal ini dengan memanfaatkan teknologi dengan sebaik-baiknya. Gerakan Tarbiyah Islamiyah harus mampu memanfaatkan kemajuan teknologi modern ini untuk membawa manusia kepada perbaikan sebagaimana yang dituntunkan oleh Alloh dan Rosul-Nya . Para tenaga pendidik harus mampu menjalankan misinya dengan berbagai media,baik tulis, mimbar, elektronik bahkan dunia maya. Karena itu SDM para tutor, pendidik harus senantiasa ditingkatkan.
Gerakan pemurtadan senantiasa akan bergerak menuntaskan misinya.
Alloh berfirman:
وَلاَ يَزَالُوْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوْكُمْ عَنْ دِيْنِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوْا {سورة البقرة: 217)
Artinya:”Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikanmu dari agamamu (kepada kekafiran) seandainya mereka sanggup”. (Q.S. Al Baqoroh (2):217).
Karena itu Alloh memerintahkan kepada kita untuk melakukan persiapan apa saja yang kita sanggup untuk menghadapi mereka.
وَأَعِدُّوْا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ...{سورة الأنفال:60}
Artinya:”Dan persiapkan untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…”. (Q.S. Al Anfal (8):(60).
Begitu pentingnya pemahaman yang benar sampai-sampai Ibnu Qoyyim Al Jauziyah menyatakan bahwa kenikmatan terbesar (tentunya setelah Iman dan Islam-Penulis), adalah pehaman yang benar terhadap Islam dan benarnya niat kita (صِحَّةُ التَّصَوُّرِ وَ صِدْقُ النِّيَّةِ). Semoga kita mendapatkan itu semua.
BAB KEEMPAT
KESIMPULAN DAN IKHTITAM
I. KESIMPULAN
1. Gerakan Tarbiyah Islamiyah telah berlangsung dan senantiasa akan berlangsung hingga akhir zaman.
2. Gerakan Tarbiyah Islamiyah merupakan kewajiban atas setiap mukmin.
3. Pihak non muslim akan senatiasa menghalangi Tarbiyah Islamiyah dan bahkan memurtadkan kaum muslimiin dengan berbagai macam cara.
4. Dua fitnah besar yang melingkupi ummat manusia yaitu fitnah syahwat akan dapat dikendalikan dengan tarbiyah dan shubuhat diantaranya adalah kebodohan akan dapat ditanggulangi dengan ta’lim (pengajaran/dakwah).
5. Karena itu kaum muslimiin harus mempersiapkan segala kekuatan untuk menghadapinya, diantaranya menjaga pemahaman yang benar akan Islam ini.
II. IKHTITAM
Demikianlah tulisan ini dipersembahkan semoga bermanfaat. Semoga menjadi amal ibadah bagi penulis khususnya.
و صل الله على النبي المصطفى محمد و على أله و صحبه و سلم.
Metro, 02 Robi’ul Awal 1430 H
27 Pebruari 2009 M.
DAFTAR PUSTAKA
1. Al Qur’an
2. Bukhory, Imam. Shohih Bukhory.
3. Muslim, Imam: Shohih Muslim
4. Katsir, Ibnu: Tafsirul Qur’anul ‘Adzim,.
5. Muhammad Nuh, As-Sayyid: Da’wah dan Tarbiyah Ahlus Sunnah wal jama’ah . Solo, Pustaka Barokah, 2003.
6. http://hidayatulhaq.wordpress.com/2008/06/14/tujuan-pendidikan-islam/
7. http://abinissa.wordpress.com/2008/05/04/ilmu-pendidikan-dalam-perspektif-islam/
8. Fiqh Da’wah, Muhammad Natsir.
9. http://www.islamhouse.com/p/1888, diakses pada tanggal 27 Pebruari 2009, jam 10:36:47
Kamis, 03 Desember 2009
Dakwah fardiyah dan jam'iyah
DAKWAH FARDIYAH DAN JAM’IYYAH
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (Q.S. Ali Imran (3): 104).
Pembukaan
Menjadi orang yang beruntung merupakan dambaan setiap manusia. Beruntung baik di dunia apalagi di akherat. Perkara ini hendaknya mendapatkan perhatian setiap muslim dengan porsi yang cukup bahkan diutamakan. Menurut ayat tersebut diatas thariqah untuk mencapainya adalah dengan melaksanakan dakwah amar ma’ruf dan nahi munkar. Mafhum mukhalafahnya jika seorang mukmin meninggalkan dakwah amar ma’ruf dan nahi munkar, maka ia akan tidak mendapatkan keberuntungan atau dengan kata lain akan merugi.
Dalam dunia dakwah dikenal istilah dakwah fardiyah dan dakwah jam’iyah. Karena pembahasan masalah ini cukup luas, maka dalam kesempatan ini pembahasan akan dibatasi seputar apa pengertian dakwah fardiyah dan jam’iyah, masyru’iyyahnya, sifat-sifat kedua bentuk dakwah tersebut termasuk kelebihan masing-masing, contoh-contoh bentuknya.
Pengertian
Dakwah fardiyah dan dakwah jam’iyah masing-masing berasal dari dua kata yaitu dakwah, kemudian diberi sifat fardiyah dan jam’iyah. Dakwah berarti aktifitas mengajak obyek dakwah kepada hal yang diinginkan oleh penyeru dakwah. Secara khusus dipahami dakwah adalah Dakwah Islamiyah yaitu mengajak manusia untuk mengikuti ajaran Allah dan Rasul-Nya. Secara bahasa fardiyah adalah sendiri sendiri, sesuatu yang sifatnya pribadi, suatu aktifitas yang pelaksanaannya bersifat personal. Sedangkan jam’iyah berarti berkelompok, bersifat masal, suatu aktifitas yang dikerjakan secara bersama-sama. Ali Abdul Halim Mahmud dalam bukunya “Dakwah Fardiyah: Membentuk Pribadi Muslim” mengatakan bahwa dakwah fardiyah adalah “ajakan atau seruan ke jalan Allah yang dilakukan seorang da’i (penyeru kepada orang lain secara perseorangan dengan tujuan memindahkan al mad’uw pada keadaan yang lebih baik dan diridhai Allah”.
Komponen-komponen dakwah adalah semakna dengan komponen komunikasi karena memang dakwah salah satu bentuk kaktiifitas komunikasi. Komponen-komponen itu adalah:
1. Komunikator dalam hal ini adalah da’i.
2. Komunikan dalam hal ini adalah mad’u.
3. Pesan dalam hal ini adalah materi dakwah yaitu ajaran Islam.
4. Media dalam hal ini adalah sarana dakwah.
Effek, yaitu pengaruh yang diharapkan timbul setelah proses komunikasi berlangsung, dalam hal ini adalah harapan bahwa mad’u akan menerima dan mengikuti pesan dakwah tersebut.
Dakwah fardiyah adalah bagian dari komunikasi personal. Komunikasi personal sendiri ada dua bagian yaitu komunikasi intrapersonal atau dengan istilah lain seseorang berkomunikasi dengan dirinya sendiri, bagian yang lain adalah komunikasi antarpersonal. Disinilah letak dakwah fardiyah berada. Joseph A. Devito menyebutkan bahwa komunikasi antarpersonal adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau di antara sekelompok kecil orang, dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika (the process of sending and receiving messages between two persons, or among a small group of persons, with some effect and some immediate feedback).
Dengan demikian dakwah fardiyah adalah kegiatan dakwah yang dilaksanakan sendiri-sendiri dengan obyek dakwah yang bersifat pribadi pulaatau sekelompok kecil orang misalnya dua atau tiga orang atau sejumlah orang yang belum dianggap kelompok besar.
Sedangkan dakwah jam’iyah adalah dakwah yang bersifat kolektif. Sifat kolektif ini bisa pada da’i ataupun pada mad’unya. Sifat kolektif pada da’i misalnya tercermin dalam sosok juru bicara sebuah organisasi atau juru kampanye atau duta suatu lembaga. Maka ketika ia berbicara atas nama lembaga yang sedang diwakilinya, maka segala ucapan dan tindak tanduk serta sikapnya merupakan penerjemahan dan perpanjangan dari lembaga.
Masyru’iyyah dakwah fardiyah dan jam’iyah
Allah berfirman:
والعصر(1)إن الإنسان لفي خسر(2)إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر(3)
Artinya: “Demi masa (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,(2) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran (3).” (Q.S. Al ‘Ashr (103): 1 – 3).
Menurut Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, Allah bersumpah dengan waktu, disaat mana dalam waktu itulah gerak dan kehidupan anak Adam berlangsung. Semua manusia dalam kerugian dan kehancuran kecuali mereka yang beriman dengan hatinya (dengan benar), dan orang-orang yang beramal shaleh dengan anggota badannya (sebagai bukti iman), dan mereka yang saling member nasehat untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemungkaran serta mereka yang saling menasehatkan untuk bersabar terhadap segala hambatan dan rintangan dalam rangka ketaatan dan menyuruh yang baik dan mencegah dari yang mungkar.
Begitu pentingnya dan syumulnya Surat al-‘Ashr ini, sampai-sampai Imam Syafi’i rahimahullah berkata: “Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah atas makhluk-Nya kecuali surat ini, niscaya ia mencukupi mereka.”
Dari keterangan Ibnu Katsir di atas, maka dipahami bahwa setiap manusia berada dalam kerugan dan, jalan keluar dari kerugian itu adalah saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, Ini bermakna seseorang harus berdakwah untuk keluar dari kerugian.
Rasulullah bersabda:
لِيَبْلُغَ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ، فَإِنَّ الشَّاهِدَ عَسَى أَنْ يَّبْلُغَ مَنْ هُوَ أَوْعَى لَهُ مِنْهُ {رواه البخاري}
Artinya:”Supaya orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang ghoib, karena orang yang hadir barangkali akan menyampaikan kepada rang yang lebih paham daripada dirinya”. (H.R. Bukhori)
بَلِّغُوْا عَنِّي وَلَوْ آيَةً { رواه البخاري}
Artinya:”Sampaikan dariku walaupun hanya satu ayat”. (H.R. Bukhori) .
مَنْ رَآى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لِمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَاِن.{رواه مسلم} و في رواية: ((وَ لَيْسَ وَرَاءَ ذَالِكَ مِنَ الإِيْمَانِ حَبَّة خَرْدَلٍ))
Artinya: ”Barang siapa diantara kamu melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia ubah dia (kemungkaran itu) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia ubah dia dengan lisannya, jika tidak mampu, maka dengan hatinya, itulah selemah-lemahnya iman”. (H.R. Muslim), dan dalam riwayat lain disebutkan: “dan setelah itu tidak ada keimanan sedikitpun barang seberat biji sawi”.
Dari tiga hadits tersebut di atas kita pahami bahwa kewajiban dakwah amar makruf dan nahi mungkar adalah kewajiban setiap muslim, tentunya sebatas kemampuannya. Karena barang siapa yang tidak perhatian dengan dakwah Islamiyyah dan upaya perubahan dari keburukan menuju kebaikan, maka dikatakan tidak ada lagi keimanan padanya. Dengan demikian pelaksanaan dakwah merupakan tanda adanya keimanan dan keislaman di dada seorang hamba.
Adapun pelaksanaan dakwah secara kolektif atau jama’i, dilihat dari sisi da’i, dapat dipahami dari ayat Al-Qur’an, diantaranya:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَ يَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya: "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung."( Q.S. Ali ‘Imran: 104).
Ma'ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan Munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.
Dari ayat ini pula dipahami bahwa tugas dakwah memang berangkat dari pribadi-pribadi yang pada gilirannya bisa tergabung dalam sebuah komunitas atau lembaga dakwah. Sehingga gerak dakwah akan lebih bisa terkoordinanir dengan baik dan bisa mencakup kalangan yang lebih luas dengan penataan dan management dakwah yang lebih baik.
Dakwah fardiyah menduduki posisi yang sangat penting dalam dunia harakah. Dari aktifitas dakwah fardiyah inilah proses perekrutan ummat akan lebih kental dan lebih selektif sebagaimana yang di sebutkan oleh Ali Abdul Hamid berikut:
“Dakwah Fardiyah dalam mafhum haraki atau tahap haraki (gerakan) ialah menjalin hubungan dengan masyarakat umum, kemudian memilih salah seorang dari mereka untuk membina hubungan lebih erat, karena da’i mengetahuibahwa orang tersebut layak menerima kebaikan disebabkan keterkaitan dan komitmennya terhadap manhaj dan adab Islam.”
Sifat-sifat dakwah fardiyah dan jam’iyah, kelebihan dan kekurangannya
Dalam membahas masalah ini penulis menggunakan pendekatan ilmu komunikasi. Hal ini karena ada hubungann yang kuat antara komunikasi dengan dakwah, yaitu karena keduanya merupakan proses yang sama sebagaimana yang disebutkan dimuka.
Sifat dakwah fardiyah dan jam’iyah antara lain:
Dakwah Fardiyah Dakwah Jam’iyah
1. Da’i bersifat pribadi 1. Da’i mewakili lembaga atau instansi
2. Mad’u bersifat pribadi atau sekelompok kecil orang 2. Mad’u dalam jumlah besar dan bahkan khalayak ramai
3. Mad’u lebih homogen 3. Mad’u cenderung bersifat heterogen
4. Untuk mencapai sasaran yang banyak pesan disampaikan berulang 4. Pesan bisa disampaikan serempak
5. Effek atau pengaruh bersifat individu atau kelompok kecil 5. Pengaruh bersifat meluas
Kelebihan dakwah fardiyah akan menjadi kekurangan bagi dakwah jam’iyah, diantaranya:
Dakwah Fardiyah Dakwah Jam’iyah
1. Tatap muka langsung 1. Diantara model dakwah ini misalnya menggunakan radio atau media perantara lain; da’i dan mad’u tidak bertatapmuka langsung.
2. Respon mad’u rata-rata langsung bisa diketahui sehingga da’i bisa introspeksi diri lebih awal 2. Respon mad’u biasanya tertunda menunggu affek global, sehingga sebagian hal-hal yang perlu dievaluasi menjadi tertunda.
3. Proses komunikasi berlangsung timbal balik 3. Proses komunikasi hanya satu arah
4. Lebih efektif bila mad’u adalah seorang pemimpin atau publik figure. Karena jika mad’u ini menerima dakwah dengan baik, maka dangat dimungkinkan masyarakat yang berada di belakangnya relative mudah dipengaruhi atau bahkan mengikuti pesan dakwah. 4. Bisa jadi diantara orang yang menerima dakwah dari sekian banyak mad’u adalah orang yang kurang mempunyai nilai tambah untuk membawa kepada perubahan global.
5. Dianggap paling efektif untuk mengubah sikap, pendapat dan perilaku seseorang. 5. Dianggap kurang fektif untuk membentu sikap, pendapat dan opini seseorang.
Kelebihan dakwah jam’iyah akan menjadi kekurangan bagi dakwah fardiyah, diantaranya:
Dakwah Jam’iyah Dakwah Fardiyah
1. Pesan disampaikan secara serempak dalam cakupan yang luas 1. Pesan hanya tertuju satu orang.
2. Tidak harus disampaikan oleh orang yang bisa dalam banyak hal. 2. Kemampuan komunikasi da’i dituntut untuk langsung mempengaruhi mad’u.
3. Biasanya lebih termanage dengan rapi 3. Terkadang berbenturan dengan pesan da’i lain.
4. Materi lebih bisa runtut. 4. Materi sering terulang di satu tempat dan oleh da’i yang lain.
5. Bisa tersaji dalam bentuk kurikulum dan silabus yang tersusun dengan baik 5. Materi dakwah tergantung kemampuan dan (kemauan) da’i.
6. Bila ada mad’u yang membutuhkan terapi secara khusus, maka bisa diarahkan kepada bagian dari amal jam’i yang membidangi perawatan mad’u dan pembinaan yang berkesinambungan. 6. Seorang da’i dituntut kerja sendirian, dari ranah hulu hingga hilir.
Dalam praktek tidak jarang dua metode tersebut digabungkan menjadi satu. Misalnya seorang da’i yang ditugaskan oleh sebuah instansi atau lembaga dakwah untuk mengadakan pendekatan persuasive kepada seorang tokoh atau mad’u lainnya dengan dakwah fardiyah. Maka proses dialog, diskusi langsung biasanya banyak ditempuh untuk seorang cental public tersebut. Dalam dakwah fardiyah kemampuan komunikasi verbal da’i mempunyai peran yang sangat penting. Demikian pula tsaqafah yang luas dari da’i sangat dibutuhkan. Karena di saat itulah terjadi proses argumentasi yang tidak menutup kemungkinan akan sangat alot. Karena itulah M Natsir dalam “Fiqh Dakwah” menyebutkan salah satu bekal da’i adalah persiapan ilmiah. Persiapan ini meliputi: 1) tafaqquh fi al-din, 2) tafaqquh fi al-nas, 3) bahasa al-Qur’an dan 4) bahasa pengantar.
Contoh dakwah fardiyah dan jam’iyah
Contoh dakwah fardiyah adalah:
1. Dakwah Rasulullah ketika sembunyi-sembunyi kepada orang-orang terdekat beliau . Seperti kepada Khadijah ra, Abu Bakar al Shiddiq ra, Umar bin Khaththab ra dan beberapa sahabat lainnya hingga datangnya perintah berdakwah dengan terang-terangan.
2. Dakwah Rasulullah kepada para raja di sekitar jazirah Arab melalui surat yang dibawa oleh para utusan. Walaupun Rasulullah tidak bisa bertatap muka langsung, tetapi pesan itu telah sampai kepada mereka melalui tangan para utusan beliau. Saat itu pula sahabat utusan bisa mengetahui reaksi apa yang ditampakkan oleh para raja tersebut.
3. Dakwah para sahabat utusan Rasulullah seperti Mu’adz bin Jabal ke Yaman. Dalam praktek, mereka berdakwah secara fardi, sehingga kemampuan da’i dalam berkomunikasi dan berdiplomasi sangat dibutuhkan.
Contoh dakwah jam’iyah
1. Khutbah Jum’at ataupun Id.
2. Ceramah-ceramah agama di depan umum.
3. Ceramah agama melalui media massa seperti surat kabar, radio, film, televisi, internet dan yang semisalnya.
4. Da’i-da’i utusan lembaga dakwah tertentu seperti NU, Muhammadiyah, Dewan Dakwah dan yang semisalnya.
5. Daurah-daurah atau kajian-kajian Islam baik di masjid-masjid, kampus-kampus, sekolah-sekolah maupun pesantren-pesantren.
6. Seminar tentang Islam dan yang semisalnya.
Penutup
Dakwah Islamiyah merupakan kewajiban yang akan senatiasa lekat pada pundak setiap muslim selagi hayat dikandung badan. Pelaksaan kewajiban ini akan sangat berfariasi sesuai dengan keadaan dan waqi’ yang dihadapi oleh da’i. Ada yang dilakukan dengan cara individual approach, ada yang melalui collective approach. Hal ini sebagai bukti iman hamba kepada Allah dan sebagai hujjah di akherat kelak. Semoga Allah menjadikan kita istiqamah di jalan-Nya. Amiin.
Refferensi:
al-Aziz, Jum’ah Amin Abdu, dan Masykur, Abdu al-Salam (Ed), 1998, Fiqih Dakwah, (cet ke 2), Solo: Intermedia.
al-‘Utsaimin, Syeikh Muhammad bin Shalih, Oktober 2000, Syarah Tsalâtsatu al-Ushûl, (terj: Ulasan Tuntas Tentang Tiga Prinsip Pokok), Jakarta, Yayasan al-Sofwa.
Effendi, Onong Uchyana, 1993, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, Bandung: PT Citra Aditya Bakti.
,1999, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, (cet ke 12), Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
,2000, Dinamika Komunikasi , (cet ke 4), Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Katsir, Ibnu, tt, Tafsir al-Qur’an al ‘Adzim, Juz I, Cairo: al-Maktabah al-Taufiqiyah.
, tt, Tafsir al-Qur’an al ‘Adzim, Juz II, Cairo: al-Maktabah al-Taufiqiyah.
Mandzur, Ibnu, , 2003, Lisan al-‘Arab , Juz II, (cet ke 9), Caero: Daar al-Hadits.
, 2003, Lisan al-‘Arab , Juz VII, (cet ke 9), Caero: Daar al-Hadits.
Natsir, Muhammad, 1996, Fiqh Da’wah, (cet ke 10), Jakarta: Yayasan Capita Selecta.
Nuh, Al-Sayyid Muhammad dan Irwan Raihan (Ed), 2003, Da’wah dan Tarbiyah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Solo, Pustaka Barokah.
Sastropoetro, RA Santoso, 1991, Komunikasi Internasional, (cet ke 3), Bandung: Penerbit Alumni.
Wright, Charles R, dan Trimo, Lilawati (Ed), 1988, Sosiologi Komunikasi Massa, (cet ke 3), Bandung: Remadja Karya.
Program Quran Digital.
Hamid, Ali Abdul, Fiqh Da’wah al-Fardiyah (Dakwah Fardiyah: Membentuk Pribadi Muslim, Jakarta: Gema Insani Press, cet I: 1995, hlm 29 dalam (on line): http://books.google.com/books?id=QJz2FD8AbkkC&pg=PA59&lpg=PA59&dq=dakwah+fardiyah+dan+jam%27iyah&source=bl&ots=AySxcYiA0P&sig=Sr4PFk8FESkX5IMdaNHXDEXGYLo&hl=en&ei=FH8XS7DALo_g7APmg-DWDw&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=1&ved=0CAgQ6AEwAA#v=onepage&q=dakwah%20fardiyah%20dan%20jam%27iyah&f=false, html, 3 December 2009, 16:19:00 WIB
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (Q.S. Ali Imran (3): 104).
Pembukaan
Menjadi orang yang beruntung merupakan dambaan setiap manusia. Beruntung baik di dunia apalagi di akherat. Perkara ini hendaknya mendapatkan perhatian setiap muslim dengan porsi yang cukup bahkan diutamakan. Menurut ayat tersebut diatas thariqah untuk mencapainya adalah dengan melaksanakan dakwah amar ma’ruf dan nahi munkar. Mafhum mukhalafahnya jika seorang mukmin meninggalkan dakwah amar ma’ruf dan nahi munkar, maka ia akan tidak mendapatkan keberuntungan atau dengan kata lain akan merugi.
Dalam dunia dakwah dikenal istilah dakwah fardiyah dan dakwah jam’iyah. Karena pembahasan masalah ini cukup luas, maka dalam kesempatan ini pembahasan akan dibatasi seputar apa pengertian dakwah fardiyah dan jam’iyah, masyru’iyyahnya, sifat-sifat kedua bentuk dakwah tersebut termasuk kelebihan masing-masing, contoh-contoh bentuknya.
Pengertian
Dakwah fardiyah dan dakwah jam’iyah masing-masing berasal dari dua kata yaitu dakwah, kemudian diberi sifat fardiyah dan jam’iyah. Dakwah berarti aktifitas mengajak obyek dakwah kepada hal yang diinginkan oleh penyeru dakwah. Secara khusus dipahami dakwah adalah Dakwah Islamiyah yaitu mengajak manusia untuk mengikuti ajaran Allah dan Rasul-Nya. Secara bahasa fardiyah adalah sendiri sendiri, sesuatu yang sifatnya pribadi, suatu aktifitas yang pelaksanaannya bersifat personal. Sedangkan jam’iyah berarti berkelompok, bersifat masal, suatu aktifitas yang dikerjakan secara bersama-sama. Ali Abdul Halim Mahmud dalam bukunya “Dakwah Fardiyah: Membentuk Pribadi Muslim” mengatakan bahwa dakwah fardiyah adalah “ajakan atau seruan ke jalan Allah yang dilakukan seorang da’i (penyeru kepada orang lain secara perseorangan dengan tujuan memindahkan al mad’uw pada keadaan yang lebih baik dan diridhai Allah”.
Komponen-komponen dakwah adalah semakna dengan komponen komunikasi karena memang dakwah salah satu bentuk kaktiifitas komunikasi. Komponen-komponen itu adalah:
1. Komunikator dalam hal ini adalah da’i.
2. Komunikan dalam hal ini adalah mad’u.
3. Pesan dalam hal ini adalah materi dakwah yaitu ajaran Islam.
4. Media dalam hal ini adalah sarana dakwah.
Effek, yaitu pengaruh yang diharapkan timbul setelah proses komunikasi berlangsung, dalam hal ini adalah harapan bahwa mad’u akan menerima dan mengikuti pesan dakwah tersebut.
Dakwah fardiyah adalah bagian dari komunikasi personal. Komunikasi personal sendiri ada dua bagian yaitu komunikasi intrapersonal atau dengan istilah lain seseorang berkomunikasi dengan dirinya sendiri, bagian yang lain adalah komunikasi antarpersonal. Disinilah letak dakwah fardiyah berada. Joseph A. Devito menyebutkan bahwa komunikasi antarpersonal adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau di antara sekelompok kecil orang, dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika (the process of sending and receiving messages between two persons, or among a small group of persons, with some effect and some immediate feedback).
Dengan demikian dakwah fardiyah adalah kegiatan dakwah yang dilaksanakan sendiri-sendiri dengan obyek dakwah yang bersifat pribadi pulaatau sekelompok kecil orang misalnya dua atau tiga orang atau sejumlah orang yang belum dianggap kelompok besar.
Sedangkan dakwah jam’iyah adalah dakwah yang bersifat kolektif. Sifat kolektif ini bisa pada da’i ataupun pada mad’unya. Sifat kolektif pada da’i misalnya tercermin dalam sosok juru bicara sebuah organisasi atau juru kampanye atau duta suatu lembaga. Maka ketika ia berbicara atas nama lembaga yang sedang diwakilinya, maka segala ucapan dan tindak tanduk serta sikapnya merupakan penerjemahan dan perpanjangan dari lembaga.
Masyru’iyyah dakwah fardiyah dan jam’iyah
Allah berfirman:
والعصر(1)إن الإنسان لفي خسر(2)إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر(3)
Artinya: “Demi masa (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,(2) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran (3).” (Q.S. Al ‘Ashr (103): 1 – 3).
Menurut Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, Allah bersumpah dengan waktu, disaat mana dalam waktu itulah gerak dan kehidupan anak Adam berlangsung. Semua manusia dalam kerugian dan kehancuran kecuali mereka yang beriman dengan hatinya (dengan benar), dan orang-orang yang beramal shaleh dengan anggota badannya (sebagai bukti iman), dan mereka yang saling member nasehat untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemungkaran serta mereka yang saling menasehatkan untuk bersabar terhadap segala hambatan dan rintangan dalam rangka ketaatan dan menyuruh yang baik dan mencegah dari yang mungkar.
Begitu pentingnya dan syumulnya Surat al-‘Ashr ini, sampai-sampai Imam Syafi’i rahimahullah berkata: “Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah atas makhluk-Nya kecuali surat ini, niscaya ia mencukupi mereka.”
Dari keterangan Ibnu Katsir di atas, maka dipahami bahwa setiap manusia berada dalam kerugan dan, jalan keluar dari kerugian itu adalah saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, Ini bermakna seseorang harus berdakwah untuk keluar dari kerugian.
Rasulullah bersabda:
لِيَبْلُغَ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ، فَإِنَّ الشَّاهِدَ عَسَى أَنْ يَّبْلُغَ مَنْ هُوَ أَوْعَى لَهُ مِنْهُ {رواه البخاري}
Artinya:”Supaya orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang ghoib, karena orang yang hadir barangkali akan menyampaikan kepada rang yang lebih paham daripada dirinya”. (H.R. Bukhori)
بَلِّغُوْا عَنِّي وَلَوْ آيَةً { رواه البخاري}
Artinya:”Sampaikan dariku walaupun hanya satu ayat”. (H.R. Bukhori) .
مَنْ رَآى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لِمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَاِن.{رواه مسلم} و في رواية: ((وَ لَيْسَ وَرَاءَ ذَالِكَ مِنَ الإِيْمَانِ حَبَّة خَرْدَلٍ))
Artinya: ”Barang siapa diantara kamu melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia ubah dia (kemungkaran itu) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia ubah dia dengan lisannya, jika tidak mampu, maka dengan hatinya, itulah selemah-lemahnya iman”. (H.R. Muslim), dan dalam riwayat lain disebutkan: “dan setelah itu tidak ada keimanan sedikitpun barang seberat biji sawi”.
Dari tiga hadits tersebut di atas kita pahami bahwa kewajiban dakwah amar makruf dan nahi mungkar adalah kewajiban setiap muslim, tentunya sebatas kemampuannya. Karena barang siapa yang tidak perhatian dengan dakwah Islamiyyah dan upaya perubahan dari keburukan menuju kebaikan, maka dikatakan tidak ada lagi keimanan padanya. Dengan demikian pelaksanaan dakwah merupakan tanda adanya keimanan dan keislaman di dada seorang hamba.
Adapun pelaksanaan dakwah secara kolektif atau jama’i, dilihat dari sisi da’i, dapat dipahami dari ayat Al-Qur’an, diantaranya:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَ يَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya: "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung."( Q.S. Ali ‘Imran: 104).
Ma'ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan Munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.
Dari ayat ini pula dipahami bahwa tugas dakwah memang berangkat dari pribadi-pribadi yang pada gilirannya bisa tergabung dalam sebuah komunitas atau lembaga dakwah. Sehingga gerak dakwah akan lebih bisa terkoordinanir dengan baik dan bisa mencakup kalangan yang lebih luas dengan penataan dan management dakwah yang lebih baik.
Dakwah fardiyah menduduki posisi yang sangat penting dalam dunia harakah. Dari aktifitas dakwah fardiyah inilah proses perekrutan ummat akan lebih kental dan lebih selektif sebagaimana yang di sebutkan oleh Ali Abdul Hamid berikut:
“Dakwah Fardiyah dalam mafhum haraki atau tahap haraki (gerakan) ialah menjalin hubungan dengan masyarakat umum, kemudian memilih salah seorang dari mereka untuk membina hubungan lebih erat, karena da’i mengetahuibahwa orang tersebut layak menerima kebaikan disebabkan keterkaitan dan komitmennya terhadap manhaj dan adab Islam.”
Sifat-sifat dakwah fardiyah dan jam’iyah, kelebihan dan kekurangannya
Dalam membahas masalah ini penulis menggunakan pendekatan ilmu komunikasi. Hal ini karena ada hubungann yang kuat antara komunikasi dengan dakwah, yaitu karena keduanya merupakan proses yang sama sebagaimana yang disebutkan dimuka.
Sifat dakwah fardiyah dan jam’iyah antara lain:
Dakwah Fardiyah Dakwah Jam’iyah
1. Da’i bersifat pribadi 1. Da’i mewakili lembaga atau instansi
2. Mad’u bersifat pribadi atau sekelompok kecil orang 2. Mad’u dalam jumlah besar dan bahkan khalayak ramai
3. Mad’u lebih homogen 3. Mad’u cenderung bersifat heterogen
4. Untuk mencapai sasaran yang banyak pesan disampaikan berulang 4. Pesan bisa disampaikan serempak
5. Effek atau pengaruh bersifat individu atau kelompok kecil 5. Pengaruh bersifat meluas
Kelebihan dakwah fardiyah akan menjadi kekurangan bagi dakwah jam’iyah, diantaranya:
Dakwah Fardiyah Dakwah Jam’iyah
1. Tatap muka langsung 1. Diantara model dakwah ini misalnya menggunakan radio atau media perantara lain; da’i dan mad’u tidak bertatapmuka langsung.
2. Respon mad’u rata-rata langsung bisa diketahui sehingga da’i bisa introspeksi diri lebih awal 2. Respon mad’u biasanya tertunda menunggu affek global, sehingga sebagian hal-hal yang perlu dievaluasi menjadi tertunda.
3. Proses komunikasi berlangsung timbal balik 3. Proses komunikasi hanya satu arah
4. Lebih efektif bila mad’u adalah seorang pemimpin atau publik figure. Karena jika mad’u ini menerima dakwah dengan baik, maka dangat dimungkinkan masyarakat yang berada di belakangnya relative mudah dipengaruhi atau bahkan mengikuti pesan dakwah. 4. Bisa jadi diantara orang yang menerima dakwah dari sekian banyak mad’u adalah orang yang kurang mempunyai nilai tambah untuk membawa kepada perubahan global.
5. Dianggap paling efektif untuk mengubah sikap, pendapat dan perilaku seseorang. 5. Dianggap kurang fektif untuk membentu sikap, pendapat dan opini seseorang.
Kelebihan dakwah jam’iyah akan menjadi kekurangan bagi dakwah fardiyah, diantaranya:
Dakwah Jam’iyah Dakwah Fardiyah
1. Pesan disampaikan secara serempak dalam cakupan yang luas 1. Pesan hanya tertuju satu orang.
2. Tidak harus disampaikan oleh orang yang bisa dalam banyak hal. 2. Kemampuan komunikasi da’i dituntut untuk langsung mempengaruhi mad’u.
3. Biasanya lebih termanage dengan rapi 3. Terkadang berbenturan dengan pesan da’i lain.
4. Materi lebih bisa runtut. 4. Materi sering terulang di satu tempat dan oleh da’i yang lain.
5. Bisa tersaji dalam bentuk kurikulum dan silabus yang tersusun dengan baik 5. Materi dakwah tergantung kemampuan dan (kemauan) da’i.
6. Bila ada mad’u yang membutuhkan terapi secara khusus, maka bisa diarahkan kepada bagian dari amal jam’i yang membidangi perawatan mad’u dan pembinaan yang berkesinambungan. 6. Seorang da’i dituntut kerja sendirian, dari ranah hulu hingga hilir.
Dalam praktek tidak jarang dua metode tersebut digabungkan menjadi satu. Misalnya seorang da’i yang ditugaskan oleh sebuah instansi atau lembaga dakwah untuk mengadakan pendekatan persuasive kepada seorang tokoh atau mad’u lainnya dengan dakwah fardiyah. Maka proses dialog, diskusi langsung biasanya banyak ditempuh untuk seorang cental public tersebut. Dalam dakwah fardiyah kemampuan komunikasi verbal da’i mempunyai peran yang sangat penting. Demikian pula tsaqafah yang luas dari da’i sangat dibutuhkan. Karena di saat itulah terjadi proses argumentasi yang tidak menutup kemungkinan akan sangat alot. Karena itulah M Natsir dalam “Fiqh Dakwah” menyebutkan salah satu bekal da’i adalah persiapan ilmiah. Persiapan ini meliputi: 1) tafaqquh fi al-din, 2) tafaqquh fi al-nas, 3) bahasa al-Qur’an dan 4) bahasa pengantar.
Contoh dakwah fardiyah dan jam’iyah
Contoh dakwah fardiyah adalah:
1. Dakwah Rasulullah ketika sembunyi-sembunyi kepada orang-orang terdekat beliau . Seperti kepada Khadijah ra, Abu Bakar al Shiddiq ra, Umar bin Khaththab ra dan beberapa sahabat lainnya hingga datangnya perintah berdakwah dengan terang-terangan.
2. Dakwah Rasulullah kepada para raja di sekitar jazirah Arab melalui surat yang dibawa oleh para utusan. Walaupun Rasulullah tidak bisa bertatap muka langsung, tetapi pesan itu telah sampai kepada mereka melalui tangan para utusan beliau. Saat itu pula sahabat utusan bisa mengetahui reaksi apa yang ditampakkan oleh para raja tersebut.
3. Dakwah para sahabat utusan Rasulullah seperti Mu’adz bin Jabal ke Yaman. Dalam praktek, mereka berdakwah secara fardi, sehingga kemampuan da’i dalam berkomunikasi dan berdiplomasi sangat dibutuhkan.
Contoh dakwah jam’iyah
1. Khutbah Jum’at ataupun Id.
2. Ceramah-ceramah agama di depan umum.
3. Ceramah agama melalui media massa seperti surat kabar, radio, film, televisi, internet dan yang semisalnya.
4. Da’i-da’i utusan lembaga dakwah tertentu seperti NU, Muhammadiyah, Dewan Dakwah dan yang semisalnya.
5. Daurah-daurah atau kajian-kajian Islam baik di masjid-masjid, kampus-kampus, sekolah-sekolah maupun pesantren-pesantren.
6. Seminar tentang Islam dan yang semisalnya.
Penutup
Dakwah Islamiyah merupakan kewajiban yang akan senatiasa lekat pada pundak setiap muslim selagi hayat dikandung badan. Pelaksaan kewajiban ini akan sangat berfariasi sesuai dengan keadaan dan waqi’ yang dihadapi oleh da’i. Ada yang dilakukan dengan cara individual approach, ada yang melalui collective approach. Hal ini sebagai bukti iman hamba kepada Allah dan sebagai hujjah di akherat kelak. Semoga Allah menjadikan kita istiqamah di jalan-Nya. Amiin.
Refferensi:
al-Aziz, Jum’ah Amin Abdu, dan Masykur, Abdu al-Salam (Ed), 1998, Fiqih Dakwah, (cet ke 2), Solo: Intermedia.
al-‘Utsaimin, Syeikh Muhammad bin Shalih, Oktober 2000, Syarah Tsalâtsatu al-Ushûl, (terj: Ulasan Tuntas Tentang Tiga Prinsip Pokok), Jakarta, Yayasan al-Sofwa.
Effendi, Onong Uchyana, 1993, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, Bandung: PT Citra Aditya Bakti.
,1999, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, (cet ke 12), Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
,2000, Dinamika Komunikasi , (cet ke 4), Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Katsir, Ibnu, tt, Tafsir al-Qur’an al ‘Adzim, Juz I, Cairo: al-Maktabah al-Taufiqiyah.
, tt, Tafsir al-Qur’an al ‘Adzim, Juz II, Cairo: al-Maktabah al-Taufiqiyah.
Mandzur, Ibnu, , 2003, Lisan al-‘Arab , Juz II, (cet ke 9), Caero: Daar al-Hadits.
, 2003, Lisan al-‘Arab , Juz VII, (cet ke 9), Caero: Daar al-Hadits.
Natsir, Muhammad, 1996, Fiqh Da’wah, (cet ke 10), Jakarta: Yayasan Capita Selecta.
Nuh, Al-Sayyid Muhammad dan Irwan Raihan (Ed), 2003, Da’wah dan Tarbiyah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Solo, Pustaka Barokah.
Sastropoetro, RA Santoso, 1991, Komunikasi Internasional, (cet ke 3), Bandung: Penerbit Alumni.
Wright, Charles R, dan Trimo, Lilawati (Ed), 1988, Sosiologi Komunikasi Massa, (cet ke 3), Bandung: Remadja Karya.
Program Quran Digital.
Hamid, Ali Abdul, Fiqh Da’wah al-Fardiyah (Dakwah Fardiyah: Membentuk Pribadi Muslim, Jakarta: Gema Insani Press, cet I: 1995, hlm 29 dalam (on line): http://books.google.com/books?id=QJz2FD8AbkkC&pg=PA59&lpg=PA59&dq=dakwah+fardiyah+dan+jam%27iyah&source=bl&ots=AySxcYiA0P&sig=Sr4PFk8FESkX5IMdaNHXDEXGYLo&hl=en&ei=FH8XS7DALo_g7APmg-DWDw&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=1&ved=0CAgQ6AEwAA#v=onepage&q=dakwah%20fardiyah%20dan%20jam%27iyah&f=false, html, 3 December 2009, 16:19:00 WIB
Langganan:
Komentar (Atom)