TINGGALKAN KEDZOLIMAN, KITA SELAMATOleh: Ali Murtadlo, S Ag.[1]
الحمد لله رب العالمين.أشهد أن لا إله إلا الله، و أشهد أن محمدا عبده و رسوله. اللهم صل على محمد و على أله وصحبه أجمعين. أوصيكم و إياي بتقوى الله قفد فاز المتقون ولا تموتن إلا و أنتم مسلمون قال الله تعالى: يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون وقال: يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا وقال: يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا. يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما، فإن أصدق الحديث كتاب الله و خير الهدي هدي محمدe و شر الأمور محدثاتها، و كل محدثة بدعة، و كل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار.
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر3 x
الله أكبر ولله الحمد.
Kaum muslimin wal muslimat, hadirin wal hadirat rahimakumullah.
Segala puji hanya bagi Allah I yang senantiasa melimpahkan nikmat Iman dan Islam, setelah itu pemahaman kita yang benar terhadap Islam dan niat yang jujur dalam pengamalan Islam ini. Tidak hanya kita pilih mana-mana yang sesuai dengan keinginan kita, sementara kita meninggalkan hal-hal yang karena kita tidak suka.
Sholawat dan salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad e, para sahabat dan seluruh ummat manusia yang istiqomah mengikuti jalannya hinga hari kiamat kelak.
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، و لله الحمد
Kaum muslimin wal muslimat, hadirin wal hadirat rahimakumullah.
Pada pagi ini, hari ini seluruh ummat Islam merayakan hari raya, hari kemenangan setelah sebulan penuh melampaui tarbiyah, Hari Raya Idul Fitri, hari boleh berbuka di siang hari dan semoga kita menjadi seperti bayi yang baru saja dilahirkan dari ibu kita sebagaimana Allah janjikan. Sungguh celaka bagi orang yang bertemu Ramadlan, hingga bulan itu berakhir, dosa-dosanya tidak diampuni oleh Allah. Hal ini karena ia menyia-nyiakan kesempatan baik selama Bulan Ramadlan. Semoga kita benar benar menjadi hamba yang bertaqwa sebagaimana yang tercantum dalam syari’at shoum yaitu untuk mencetak peribadi muttaqi, yang taat dan takut kepada Allah I. Mentaati perintah-Nya sehingga berhak mendapatkan pahala yang baik baik di dunia maupun di akherat, serta menghindari larangan-Nya karena takut akan siksa-Nya.
يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Al Baqarah[2]:183).
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، و لله الحمد
Kaum muslimin wal muslimat, hadirin wal hadirat rahimakumullah.
Ada hal yang harus kita waspadai selepas Ramadlan. Biasanya masjid kembali sepi, sholat jama’ah kembali terlalaikan, tilawah Qur’an kembali terabaikan, sehingga seorang mengenal Rabbnya hanya pada Ramadlan. Maka seorang yang bertaqwa seyogyanya mengenal Rabbnya, Ilahnya sepanjang hayat. Banyak hal yang menjadi entri point penilaian keimanan hamba. Dari sekian tolok ukur, maka dapat disimpulkan menjadi tiga hal pokok yaitu: (1) akidah yang selamat dari kesyirikan, (2) ibadah yang benar sesuai ajaran Rasul dan bersih dari kebid’ahan, dan (3) akhlak karimah yang menghiasi peribadi seorang hamba. Ibarat sekolah, maka Ramadlan adalah madrasah dan seorang muslim adalah siswa peserta didik. Tiga hal tersebut merupakan goal atau tujuan dari pendidikan tersebut.
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، و لله الحمد
Kaum muslimin wal muslimat, hadirin wal hadirat rahimakumullah.
Pertama: akidah yang selamat dari kesyirikan. Murninya akidah seorang muslim merupakan kunci kebahagiaan seorang. Bahkan ianya menjadi pemisah antara kebahagiaan keberuntungan seseorang ataupun kesengsaraan seseorang. Seorang hamba yang dipanggil Allah dalam keadaan mensyerikatkan Allah dengan sesuatupun dan ia belum sempat untuk taubat kepada Allah, maka ia akan masuk neraka. Sebaliknya siapapun yang meninggalkan dunia ini dalam keadaaan memurnikan tauhid kepada Allah, maka ianya akan dijamin jannah. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam sabda Rasul e:
حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا شَقِيقٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ وَقُلْتُ أَنَا مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ (رواه البخاري: 4/458)
Rasulullah e bersabda: “Siapa saja yang meninggal dalam keadaan mensyerikatkan Allah dengan sesuatupun, maka dia masuk neraka”, dan Abdullah berkata: “Siapa yang meninggal tidak menyerikatkan Allah dengan sesuatupun, maka ia masuk jannah.” (H.R. Bukhari: IV/458).
وعن جابر رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : " ثنتان موجبتان . قال رجل : يا رسول الله ما الموجبتان ؟ قال : ( من مات يشرك بالله شيئا دخل النار ومن مات لا يشرك بالله شيئا دخل الجنة ) (صحيح رواه مسلم)
Dari Jabir t berkata: Rasulullah e bersabda: Ada dua hal yang mengharuskan (menentukan). Seseorang bertanya: “ Apa dua hal yang menentukan itu Ya Rasulullah e?” Beliau menjawab: “Siapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah, maka ia masuk neraka, dan siapa yang meninggal dalam keadaan tidak mensekutukan Allah dengan sesuatupun, maka akan masuk jannah.” (H.R. Muslim dalam Miskaat Mashaabiih: Kitab Iman Fash 1, Juz I/ 9)
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، و لله الحمد
Kaum muslimin wal muslimat, hadirin wal hadirat rahimakumullah.
Kita dapati bersama di masa kini banyaknya praktek-praktek kesyirikan, dari yang bergaya lama, hingga yang dipoles dengan atribut modern. Gaya lama, misalnya dengan larung sesaji di berbagai tempat-tempat yang dikeramatkan, dengan alasan nguri-nguri kabudayan, dari ruwatan hingga selamatan hasil panen serta tolak balak. Begitu riuh rendahnya kebiasaan itu hingga aneh rasanya kalau ada yang mengatakan itu adalah budaya yang bertentangan dengan akidah Islam. Dengan gaya baru, misalnya: tayangan-tayangan sihir di televisi dengan segala koreografi dan permainan kamera. Belum lagi permainan-permainan hipnotisasi dengan segala anekdot dan kelucuan yang disuguhkan. Seolah itu semua menjadi pembenar bahwa praktek-praktek tersebut tidak apa-apa. Na’udzubillaahi min dzaalik.
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ ثَوْرِ بْنِ زَيْدٍ الْمَدَنِيِّ عَنْ أَبِي الْغَيْثِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ
Rasulullah e bersabda: “Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang menghancurkan.” Para sahabat bertanya: “Apa tujuh perkara itu Ya Rasulullah?” Beliau menjelaskan: “(1) Menyekutukan Allah, (2) sihir, (3) membunuh jiwa yang Allah haramkan tanpa alasan yang benar, (4) memakan riba, (5) makan harta anak yatim, (6) lari dari medan pertempuran, dan (7) menuduh wanita baik-baik berbuat keji.” (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasa’I, Baihaqi, Ibnu Hibban: dengan berbagai derivasinya).
Jama’ah, perkara-perkara di atas benar-benar terjadi dan tidak sedikit pula yang dilakukan dengan terang-terangan. Masalah akidah yang kita bicarkan di atas baru sebagian dari hal yang Rasul pesankan dalam hadits itu. Inilah kenyataan hidup di mana kita berada sekarang ini. Kalaulah bukan karena hidayah Allah tentu kita tidak akan sanggup menempuh hidup ini dengan selamat.
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، و لله الحمد
Kaum muslimin wal muslimat, hadirin wal hadirat rahimakumullah.
Yang kedua Ibadah yang benar sesuai dengan apa yang Rasul tuntunkan. Selain ibadah harus ikhlash karena Allah, agar ibadah menjadi amal shalih, maka harus dilaksanakan sesuai dengan Rasulullah e contohkan yang kemudian disebarkan oleh para sahabat yang mulia. Pelajaran dari Ramadlan adalah:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَامٍ قَالَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Dari Abu Hurairah t berkata: Rasulullah e bersabda: “Siapa saja yang shaum Ramadlan dengan iman dan mengharap ridla Allah semata, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (H.R. Bukhari: No: 37/I/67).
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Dari Abu Hurairah t berkata: Rasulullah e bersabda: “Siapa saja yang qiyam Ramadlan (melaksanakan shalat tarawih) dengan iman dan mengharap ridla Allah semata, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (H.R. Bukhari: No: 36/I/65).
Dalam pengamalan agama secara umum Allah berfirman:
بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (112)
(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Q.S. Al Baqarah : 112)
Sa’id bin Jabir berkata: بَلَى مَنْ أَسْلَمَ mengikhlashkan amal, وَهُوَ مُحْسِنٌ adalah mengikuti Rasulullah dalam beramal. Karena amal akan diterima dengan dua syarat: Ikhlah dan bena sesuai dengan syari’at. Ikhlash tapi tidak benar, tidak terhitung amal shalih, demikian pula sebaliknya. Hal ini sebagaimana sabda Rasul melalui shahabat ‘Aisyah t yang diriwayatkan Muslim
"من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد"
“Siapa yang beramal suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami (tidak ada contohnya dari kami), maka tertolak.” (Tafsir Ibnu Katsir: I/385)
Kecintaan Allah I akan didapat apabila mengikuti tata cara Rasulullah e dalam beribadah bahkan dalam segala ihwal kita yang berkenaan dengan kehidupan beragama kita. Karena itu mengetahui bagaimana Rasul beribadah adalah merupakan kata kunci.
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (31)
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali ‘Imran (3):31).
Dari hadits tentang shaum dan tarawih tersebut, dapat diambil pelajaran bahwa dosa-dosa hamba akan Allah ampuni dengan sarana ibadah yang ikhlash dan benar. Tetapi banyak kita jumpai praktek-praktek ibadah yang hanya untuk menggugurkan kewajiban, sekedarnya saja, kurang ada kesungguhan, bahkan terkesan sambil lalu dan jika sempat. Namun kita berharap dari ibadah itu kita akan mendapatkan ampunan dari Allah I. Padahal Rasulullah e, yang sudah dijamin jannah saja, beribadah dengan sepenuh hati, sungguh-sungguh, bahkan kaki beliau sampai bengkak-bengkak karena lamanya berdiri di waktu malam untuk sholat, beliau mencucurkan air mata dengan deras. Itu semua beliau lakukan karenanya cintanya kepada Allah I, keinginan yang kuat untuk menjadi seorang hamba yang pandai bersyukur. Sementara kita… sudah pada posisi apa ibadah kita kepad Allah, sudahkan kita lakukan dengan kesunggguhan, penuh rasa cinta, rasa harap akan belas kasih Allah dan rasa takut serta khawatir akan siksa Allah. Adakah rasa pengagungan dari diri kita kepada Allah I dengan sepenuhnya dan rasa rendah dan hinanya diri ini dihadapan Sang Pencipta, Dzat yang benar untuk diibadahi.
Dalam ajaran Islam, ibadah mempunyai posisi yang strategis, yaitu: tujuan diciptakannya manusia dan jin [al- Dzaariyaat (51):56], tujuan diutusnya para Rasul dan diturunkannya kitab-kitab [al-Nahl (16):36; al-Anbiya’ (21):25], ibadah merupakan aktivitas para malaikat [al-Anbiya (21): 19-20], ibadah merupakan sifat utama penduduk jannaj [al-Insan (76):6], ibadah merupakan satu-satunya sarana mendekatkan diri kepada Allah [al Mukminun (23):57-61).
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، و لله الحمد
Kaum muslimin wal muslimat, hadirin wal hadirat rahimakumullah.
Yang ketiga adalah Akhlak yang mulia. Buah dari akidah yang benar selama tarbiyah pada Madrasah Ramadlan adalah makin bagusnya akhlak seorang muslim muttaqy. Sungguh dalam shaum dan Ramadlan terdapat begitu banyak pelajaran akhlak. Akhlak kepada Allah, diantaranya, merasa diawasi oleh Allah. Seorang yang yang berakidah benar dan beribadah yang benar, maka ia tidak akan mendahului berbuka walaupun sesaat jika belum saatnya, sekalipun ia sendirian. Ia sadar betul bahwa jika ia nekad berbuka padahal belum saatnya, maka ia menganggap Allah tidak mengawasi, ia melanggar tuntunan ibadah shaum yang dituntunkan oleh Rasulullah, dan ia harusnya malu kepada orang lain yang mungkin dua hari tidak menemukan makan. Padahal ketika ia menahan diri sebentar saja hingga saat berbuka betul-betul tiba , maka ia akan mendapatkan kebahagiaan yang berlipat-lipat, dan hanya Allah yang memabalasi ibadah shaumnya, ampunan dari Allah I.
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا هِشَامُ بْنُ يُوسُفَ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ عَنْ أَبِي صَالِحٍ الزَّيَّاتِ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ (رواه البخاري: 1771/ 6/474)
Rasulullah e bersabda: “Allah berfirman: ‘Setiap amal anak Adam untuknya kecuali ahoum, maka Akulah pemiliknya dan Akulah yang akan membalasinya, shiyam sebagai benteng, jika seorang dari kalian sedang shaum, maka janganlah rafats dan bertikai, jika seseorang mencelanya atau mengajaknya bertikai, maka hndaklah ia berkata ‘aku sedang shaum’. Sungguh bau mulut orang yang shaum lebih baik daripada bau kesturi disisi Allah I. Bagi orang yang shaum ada dua kebahagiaan, bahagia ketika berbuka dan bahagia ketika bertemu Rabbnya.” (H.R. Bukhari).
Allah menisbatkan ibadah shaum kepada diri-Nya, “Sesungguhnya ia adalah untuk-Ku”. Ini berarti Allah mengistimewakan ibadah shaum dari amal-amal shaleh yang lain yang dikerjakan oleh hamba-hamba-Nya. Makna shaum untuk Allah adalah bahwa shaum tidak dikerjakan oleh seorang pun kecuali dengan niat untuk Allah. Ia adalah ibadah yang bersifat rahasia antara Allah dan orang yang berpuasa saja, hingga tidak ada celah bagi orang yang berpuasa untuk riya dalam melakukannya, berbeda dengan ibadah yang lainnya. (Lihat Syarh Suyuthi li An Nasa`i: 4/158, tahqiq Abdul Fattah Abu Ghuddah).
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، و لله الحمد
Kaum muslimin wal muslimat, hadirin wal hadirat rahimakumullah.
Ini sudah Ramadlan ke berapa kita. Apakah tahun depan kita masih bisa bertemu Ramadlan lagi. Sudah baikan akhlak kita kepada ayah ibu kita. Mungkin kita pernah menyakiti ibu, atau ayah. Ibu telah mengandung kita, mengasuh kita dengan taruhan nyawa. Ayah telah melindungi kita dengan segala kekuatannya. Sementara kita anak yang tak pandai berterimakasih, suka menyia-nyiakan mereka, memandang remeh keberadaan mereka, padahal sedikitpun kita tak kan pernah mampu membalas jerih payah mereka. Tak terbayar. Kini mungkin mereka telah tiada, hanya doa yang bisa kita lantunkan.
Apakah kita sebagai orang tua telah mendidik anak dan generasi dengan benar. Sebagai suami, apakah telah membawa keluarga kepada kebenaran atau kesesatan. Sudahkan menafkahi mereka dengan rizqi yang halal saja. Sebagai istri, sudah seberapa besar tunduk kita kepada suami, sudah berapa kali kita menyakitinya, padahal kepadanyalah kita menyandarkan harapan di dunia ini setelah kepada Allah tentunya. Sudahkan kita menjadi hamba yang pandai bersyukur kepada sesama.
Madrasah Ramadlan juga mendidik manusia untuk mengasah empati dan simpati kepada orang yang lebih lemah. Sungguh moment itu akan didapat bagi orang-orang yang hatinya peka. Ditengah-tengah gaya hidup hedonisme dan ingin menang sendiri, maka kecerdasan social seorang muslim dipertajam. Shaum akan menjauhkan jiwa dari nafsu serakah, demi tujuan duniawi sesaat seorang hamba tega meraihnya dengan menghalalkan segala cara. Sering kita dengar kasus pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, penipuan, dan perbuatan curang lainnya.
Disisi lain media informasi kita banyak menukilkan kabar tentang kemunduran akhlak keperibadian ummat. Dari kasus perzinaan hingga kasus korupsi, serta saling sikut dunia politik, ekonomi dan budaya hingga pemikiran. Disudut kehidupan lain, jurang perbedaan antara pihak berpunya dengan kaum papa dan termarginalkan masih jelas kalau tidak mau dikatakan semakin melebar. Masih kita dengar ada saudara-saudara kita yang mengais-ngais makanan sisa dari tong sampah, tumpukan TPA, bahkan sisa makanan hewan piaraan. Tidak jarang pula mereka saling berebut dan dahulu mendahului dengan binatang-binatang tak bertuan yang ada di pasar-pasar, jalanan kumuh dan lorong-lorong sempit. Sementara ada diantara kita yang seolah hidup diatas awan bak diri tak berpijak di bumi. Dada membusung, perut membuncit, dasi menggantung dan sederet atribut kesuksesan yang dipaksakan.
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، و لله الحمد
Kaum muslimin wal muslimat, hadirin wal hadirat rahimakumullah.
Sementara itu di belahan lain, kaum muslimiin menjadi korban kekerasan yang bisa dikatakan pembantaian muslim. Terakhir terjadi di Rohingnya yang sebelumnya di Suria. Kehormatan kaum muslin terampas. Menurut laporan Lembaga Hak Asasi Manusia PBB, sudah lebih 20 ribu rakyat Suriah yang dibantai oleh rezim Syiah-Alawiyyin yang dipimpin Bashar al-Assad. Pembantaian itu terus berlanjut. Sepertinya al-Assad tak peduli dengan kematian yang terjadi. Rakyatnya diperlakukan seperti binatang. (VOA of Islam, 30 Mei 2012).
Sedikitnya 77 meninggal dan 53.000 muslim kehilangan tempat tinggal sejak kerusuhan terjadi sejak Juni 2012. (Laporan resmi Pemerintah Myanmar 31 Juli 2012). Jumlah meninggal tersebut sangat berbeda dengan laporan-laporan sumber lain yang menyebutkan hingga ribuan korban meninggal.
Sementar konflik yang tak kunjung selesai di tanah Palestina telah menelan korban berjuta nyawa, dan kesusahan yang berkepanjangan. Demikian juga di negeri-negeri muslim lainnya.
Dari kenyataan ini maka satu pelajaran yang hendaknya dicermati yaitu tercerabutnya harga diri kaum muslimiin, hilangnya izzah Islam dan kaum muslimiin.
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، و لله الحمد
Kaum muslimin wal muslimat, hadirin wal hadirat rahimakumullah.
Ketahuilah bahwa Allah telah berfirman:
وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا (16)
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (Al Isra’ (17): 16)
Ibnu Katsir menerangkan: “Kami perintahkan untuk berbuat ketaatan tetapi mereka justru berbuat kekejian, maka mereka berhak untuk mendapatkan siksa. Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu ‘Abbas. (Ibn Katsir: V/61)
وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى حَتَّى يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِنَا وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَى إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ (59)
Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kedzaliman. (Al Qashash (28):59)
Paling tidak dari dua ayat di atas menginformasikan kepada kita bahwa Allah I tidak akan menyiksa suatu kaum, tidak akan menghancurkan suatu kaum sebagai bentuk adzab, melainkan karena peduduknya dalam keadaan dzolim. Maka kedzoliman mana lagi yang lebih parah disbanding syirik kepada Allah, ibadah penuh dengan kebid’ahan dan merebaknya akhlak yang tercela.
Renungkanlah bahwa apa yang dikatakan oleh Umar bin Khoththob t:
"نَحْنُ قَوْمٌ أَعَزَّنَا اللهُ بِالإِسْلاَمِ فَمَتَي ابْتَغَيْنَا بِغَيْرِ اْلإِسْلاَمِ أَذَلَّنَا اللهُ"
“Kami adalah kaum yang Allah muliakan dengan Islam, maka setiap kami mengharapkan kemuliaan di luar Islam, Allah menghinakan kami.” (at Thabari 13/473)
Kita berdoa semoga Ramadlan kali ini benar-benar menjadikan kita hamba yang bertaqwa.
Sebagai penutup khutbah ini, khotib mengajak kepada kita semua untuk mengikuti shoum Romadlon ini dengan shoum 6 hari di Bulan Syawal, sebagaimana hadits Rosul e:
عن أبي أيوب الأنصاري t أن رسول الله e قال: ((مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ)).{رواه مسلم}
Artinya: Dari Abu Ayyub Al Anshory t bahwasanya Rosululloh e bersabda:“Barang siapa yang shoum Romadlon kemudiann dia ikuti dengan shoum 6 hari dari Bulan Syawaal, maka itu seperti shoum sepanjang zaman)”. (H.R. Muslim: 1164).
Akhirnya, marilah kita akhiri ibadah shalat Id kita pada pagi ini dengan sama-sama berdoa:
اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم و على آل إبراهيم إنك حميد مجيد.و بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم و على آل إبراهيم إنك حميد مجيد
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.
Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan doa.
اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.
Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang dzalim dan kafir.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ
Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.
اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.
اَللَّهُمَّ اِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمِ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَسْبَعُ وَمِنْ دُعَاءِ لاَيُسْمَعُ
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tak bermanfaat, dari hati yang tak khusyu dan jiwa yang tak pernah merasa puas serta dari doa yang tak didengar (Ahmad, Muslim, Nasa’I).
رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.
وصل على محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. و الحمد لله رب العالمين
$$$